Review Singkat :

Pertama-tama, buku ini saya pinjam dari seorang teman, Taris Barikan. Tidak ada alasan mendesak ketika meminjam buku berjudul Kritik Seni Rupa ini, selain rasa ingin tahu saya untuk memperdalam pengetahuan di bidang seni rupa sebagai bekal dalam perkuliahan. Sebelum masuk ke pembahasan, saya perlu memberi catatan terlebih dahulu: ulasan ini hanyalah ungkapan pribadi dari sudut pandang saya. Saya tidak bermaksud menyinggung pihak manapun, dan hanya akan membahas bagian-bagian yang menurut saya penting serta menarik. Tujuan saya menulis review buku karya Sem C. Bangun ini adalah sekadar berbagi pengalaman pribadi selama membacanya.

Buku Kritik Seni Rupa terdiri dari sembilan bab, dimulai dari pendahuluan hingga bab yang memuat opini tentang kritik seni rupa di Indonesia. Jujur, semakin jauh saya membaca, semakin saya menyadari bahwa seni—khususnya seni rupa—adalah bidang ilmu yang sifatnya tidak pasti, selalu bisa berubah. Namun, pada bab kedua yang membahas tipe-tipe kritik seni, saya menemukan teori yang menurut saya cukup menarik, yaitu teori Edmund Burke Feldman. Dalam pandangan Feldman, terdapat empat tipe kritik seni yang relevan untuk seni rupa, yakni Kritik Jurnalistik, Kritik Pedagogik, Kritik Ilmiah, dan Kritik Populer.

Selanjutnya, pada bab tiga hingga bab enam, pembahasan mengarah pada aspek penyajian, evaluasi, filsafat, hingga jenis penilaian dalam kritik seni. Bagian ini justru membuat saya semakin bertanya-tanya: apa sebenarnya seni itu? Apakah ia sebuah disiplin keilmuan, atau hanya metode, medium, bahkan sekadar hiburan dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan ini sedikit disentuh dalam bab-bab tersebut, meskipun sifatnya masih umum. Dari bacaan itu, saya berani menyimpulkan bahwa seni adalah sebuah alat atau media yang menunjang kehidupan kita sehari-hari. Di tengah abstraknya makna seni, saya merasa kesimpulan ini cukup masuk akal, sebab tanpa seni, ilmu pengetahuan lain seperti fisika, kimia, atau matematika tidak mungkin berkembang. Mengapa demikian? Karena seni lah yang memunculkan kreativitas manusia.

Memasuki bab tujuh dan delapan, buku ini membahas tentang kebangkitan kritik seni modern serta perkembangan kritik seni rupa pada era postmodern. Pada bab delapan, dua topik utama yang dibahas adalah Feminisme dan Kritik Multikulturalisme. Keduanya memang diulas cukup mendalam, khususnya peranan perempuan pada masa itu, namun bagi saya pembahasan ini terasa kurang seimbang jika dibandingkan dengan bab lain yang lebih bersifat umum.

Terakhir, bab sembilan menurut saya terasa membosankan. Isinya adalah pandangan para seniman Indonesia mengenai kritik seni rupa. Barangkali karena saya tidak terlalu ingin mendalami topik ini lebih jauh, sehingga bagian akhir tersebut terasa berat. Meski demikian, saya tetap berharap para seniman yang memberi pengaruh besar bagi perkembangan seni rupa di Indonesia dapat terus hidup dan dikenang.

Sekian ulasan buku Kritik Seni Rupa dari saya. Terima kasih, wassalamualaikum.